GO GREEN

Kejayaan Bahari dan Kesadaran yang Hilang Merawat Sungai Musi

SIBERLING.com – Sungai Musi yang panjangnya 750 kilometer, memiliki peran penting sebagai jalur perdagangan dan transportasi. Berhulu di Taman Nasional Kerinci Seblat, Kabupaten Rejang Lebong, dan Kabupaten Kapahiang, Provinsi Bengkulu, dan bermuara di Sungsang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan

Suparmanto [30] melangkah cepat di jalan becek Pasar 16 Ilir Palembang. Dia memikul buntalan pakaian baru menuju dermaga, di depan pasar, yang menghadap Sungai Musi. Barang dagangannya diletakkan di sebuah perahu tongkang. ”Saya ikut keliling ke daerah Jalur, Banyuasin. Mulai dari Muara Sugihan, Sidomulyo, Air Sugihan, hingga Sungsang,” katanya, awal Juni 2019.

Suparmanto tergabung dalam kelompok pedagang, sekitar 40 orang. Mereka menyewa lima perahu tongkang dan empat speedboat. Jadwal mereka, berangkat Senin, pulang Sabtu. Perjalanan itu melalui sejumlah sungai. Mulai Sungai Musi, Sungai Air Saleh, hingga Sungai Sugihan dan kembali ke Musi.

Suparmanto, yang merupakan warga Gandus, Palembang, baru tiga tahun ikut berdagang di daerah Jalur. Kata “Jalur” untuk menyebut permukiman transmigran di Kabupaten Banyuasin. Dia memilih bergabung dengan kelompok pedagang yang menggunakan tongkang, sebab sampai saat ini hanya transportasi air yang lebih lancar dan murah. Dibanding darat.

“Jelas sekali Sungai Musi dan sungai lainnya sangat penting bagi kami, termasuk mereka yang hidup di wilayah pedalaman,” katanya.

Salah satu bukti keberadaan Kerajaan Sriwijaya di Palembang adalah Sungai Musi. “Kenapa? Sungai Musi merupakan muara dari berbagai sungai yang mengalir dari Bukit Barisan, baik yang berada di Sumatera Selatan, hulu Bengkulu, maupun hulu Jambi,” kata Sutrisman Dinah, jurnalis dan pegiat lingkungan yang beberapa kali melakukan jelajah Sungai Musi. “Dapat dikatakan Sungai Musi yang melahirkan Sriwijaya,” terangnya, Kamis [27/6/2019].

Masa lalu, Sungai Musi adalah saksi kejayaan perdagangan proto Sriwijaya. Termasuk pula perannya menjayakan kemaritiman Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 hingga ke-13. Sungai Musi juga menjadi saksi maju dan runtuhnya Kesultanan Palembang Darussalam dari abad ke-17 sampai abad ke-19. Dilanjutkan kejayaan VOC dan Belanda, hingga pemerintahan Indonesia.

Kejadian ini mendorong lalu lintas perdagangan yang ramai di Asia Tenggara. Kondisi yang memungkinkan berdirinya Kerajaan Sriwijaya abad ke-7. Terbukti, Palembang dikunjungi banyak pedagang dari Asia Barat dan Asia Timur.

Pintu gerbang masuknya kapal-kapal dagang yakni Selat Bangka, menyusuri Sungai Upang, kemudian masuk Sungai Musi, menuju Palembang untuk bongkar muat barang dagangan.

Bukti Palembang sebagai pusat perdagangan, kata Sondang, ditemukannya banyak tembikar, manik-manik arikamedu, manik-manik kaca indopasifik, juga manik kaca emas dan kornelian, yang di dasar Sungai Musi atau pada situs proto Sriwijaya di Air Sugihan, Pantai Timur Sumatera. Manik kaca berasal dari Asia Barat, yakni Mesir, yang kurun waktunya abad ke-4 hingga ke-11.

Selain itu, ditemukan perhiasan anting emas, cincin emas, liontin perunggu, gelang kaca. Keramik Cina dari Dinasti Sui abad ke-6 dan ke-7 juga terlihat pada situs proto Sriwijaya.

“Jejak permukiman rumah kayu, perahu, wadah tembikar, tulang, gigi juga ditemukan di Pantai Timur Sumatera, tepatnya di tepi Sungai Lalan dan tepi Sungai Sembilang. Barang-barang ini diperkirakan dari abad ke-4 sampai ke-7,” lanjutnya. Dengan demikian, diperkirakan masyarakat dahulu telah memiliki kontak dengan pedagang asing.

Sedangkan jalur internal adalah sesama Sumatera, dari pedalaman hingga hulu Musi. Sondang mengutip penelitian Bugie Kusuhartono dari jurnalnya berjudul “Potensi Lingkungan Regional dan Pertumbuhan Peradaban Kuno di Palembang.”

Daerah Aliran Sungai [DAS] Musi terpanjang di Sumatera, sejauh 750 kilometer. Berhulu di Taman Nasional Kerinci Seblat, Kabupaten Rejang Lebong, dan Kabupaten Kapahiang, Provinsi Bengkulu, dan bermuara di Sungsang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Sungai Musi memiliki delapan sub-DAS, yakni Sungai Lakitan, Sungai Kelingi, Sungai Rawas, Sungai Semangus, Sungai Batanghari Leko, Sungai Komering, Sungai Lematang, dan Sungai Ogan.

Hulu dan hilir Sungai Musi berbeda secara topografi dan hasil alam. Di hulu, banyak perbukitan dengan potensi kayu hutan, hasil perkebunan, dan tambang melimpah. Hilir berupa rawa, yang masyarakatnya banyak melakukan perniagaan.

Jejak perdagangan masa lampau juga ditemukan di tengah Sungai Musi, yakni di Teluk Kijing, Bingin Jungut, Bumiayu dan Lesung Batu. “Posisi Teluk Kijing di belokan dua sungai, kami indikasikan sebagai pelabuhan transit kapal yang berlayar dari Sungai Batanghari Leko, sebelum melanjutkan pelayaran ke Sungai Musi,” kata Sondang.

Guna mempertahankan dan memaksimalkan Sungai Musi sebagai jalur perdagangan kekinian, Sondang menyarankan, pemerintah daerah yang terhubung dengan aliran Sungai Musi, mulai dari Pemerintah Provinsi Bengkulu, hingga pemerintah kabupaten dan kota di Sumatera Selatan, harus mampu beradaptasi dengan lingkungan.

Misalnya, pada hulu, seperti Kapahiang dan Rejang Lebong di Bengkulu, harus menjaga keberadaan DAS Musi. “DAS di hulu itu penting sekali, jangan sesekali menebang pohon apalagi mengunduli hutan. Itu sumber resapan air ke tanah,” katanya.

Kecemasan Sondang cukup beralasan, sebab beberapa waktu lalu masyarakat Bengkulu merasakan akibat rusaknya DAS Musi di sejumlah sungai. Banjir besar diikuti longsor terjadi Sabtu [27/4/2019] lalu, yang berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Nasional [BPBN] per Rabu [01/5/2029], menyebabkan 30 orang meninggal dunia, 6 orang hilang, 184 rumah rusak, 7 gedung pendidikan terdampak, serta 40 titik infrastruktur rusak seperti jalan, jembatan, dan gorong-gorong. Bencana ini melanda 9 kabupaten/kota di Bengkulu.

Nurhadi Rangkuti, arkeolog yang pernah beberapa tahun memimpin Balar Palembang, menjelaskan berkurangnya peranan sungai di hulu Sungai Musi bermula 1930-an. Terjadi ketika Belanda membuat sejumlah jalan darat, yang menghubungkan pedalaman Sumatera Selatan ke Jambi, Lampung, dan Bengkulu. Hadirnya jalan darat membuat keberadaan hulu sungai tidak berfungsi baik. Atau, tidak menjadi sesuatu yang dibutuhkan.

Kebijakan ini berbeda di hilir, terutama Kota Palembang dan sekitar, yang mengandalkan Sungai Musi, sebagai sarana angkutan umum dan barang hingga ke muara. “Kondisi yang bertahan hingga sekarang,” ujarnya.

Guna mengembalikan kejayaan Sungai Musi, Nurhadi berharap, pemerintah dan masyarakat Sumatera Selatan kembali menempatkan Sungai Musi dan sungai-sungai lainnya sebagai kebutuhan. Dengan begitu, terbangun kesadaran menjaga sungai dan DAS-nya. “Kerajaan Sriwijaya sudah membuktikan dengan memanfaatkan sungai dapat mencapai kejayaan, ekonomi maupun kebudayaannya,” paparnya.

Selain persoalan rusaknya DAS Musi, ancaman yang menanti adalah sampah, khususnya plastik, serta limbah industri dan rumah tangga. “Sampah adalah persoalan utama Sungai Musi. Hutan gundul dapat ditanam meski butuh waktu lama, tapi bagaimana membersihkan sampah yang mengendap di dasar sungai. Apalagi sampah itu masuk setiap hari,” ujar Sutrisman Dinah.

“Pemerintah dan masyarakat di Sumatera Selatan harus melakukan revolusi mental, menata sampah di lingkungannya. Kurangi sampah dan bersihkan lingkungan agar tidak terbawa ke Sungai Musi, yang selanjutnya melaju ke laut. Jika laut dipenuhi sampah, habis sudah kehidupan ini,” jelasnya.

Berdasarkan data Pemerintah Palembang, setiap hari sekitar 1.200 meter kubik sampah mengendap di aliran anak Sungai Musi, sebagaimana dikutip dari Warta Ekonomi. Pada 2018 lalu, Pemerintah Palembang melalui program restorasi dan revitalisasi ingin menekan sampah mengendap itu sebesar 70 meter kubik per hari. Program dimulai dari Sungai Sekanak, Sungai Lambidaro, Sungai Bendung, dan Sungai Buah. (bay)

 

 

oleh : Ahmad Supardi dan Taufik Wijaya (Palembang)

Sumber: Magobay.co.id

Editor : Kawara Meliala

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close