SUMSEL

Menara Masjid Agung Setinggi 45 Meter Bergaya Arsitektur Cina

SIBERLING.com, PALEMBANG  – Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) I Jayo Wikramo masih berdiri kokoh meski telah berusia ratusan tahun. Bertempat di pusat kota dengan nuansa khas Cina. Masjid ikon Palembang ini tidak pernah sepi dari jamaah yang datang silih berganti untuk shalat sekaligus melihat keunikan di setiap sisi masjid yang berdiri tahun 1738 ini. Bangunan masjid yang dibangun Sultan Mahmud Badaruddin I atau dikenal sebagai Jayo Wikramo ini masih asli.

Berbentuk bujur sangkar dengan atap limas bersusun ditambah ornamen berundak warna emas disebut mustaka. Atap masjid berdiri dua tingkat seperti kepala dan tubuh yang terpisah oleh leher. Setiap undak mempunyai jurai kelompok simbar atau tandung kambing yang dipasang sebanyak 13 buah di setiap sisi. Masjid ini juga dipercantik gerbang serambi masuk dibagian timur, selatan dan utara.

Sekretaris Panitia Ramadhan pada Yayasan Masjid Agung Palembang, Syukri Mascik Azhari mengatakan, masjid ini merupakan bagian dari peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam dan salah satu masjid tertua di Kota Palembang. Dahulu masjid ini berada di sisi utara Istana Kesultanan Palembang atau di belakang Benteng Kuto Besak dan berdekatan dengan aliran Sungai Musi.

Lihat Juga  Sumsel Tuan Rumah  PTQ Tingkat Nasional Tahun 2020

Seiring berjalannya waktu, masjid ini berada di pusat kota atau tepatnya di Kelurahan 19 Ilir, Kecamatan Ilir Barat I Palembang. “Masjid ini dibangun memakan waktu hampir 10 tahun lamanya,” kata Syukri saat ditemui di Masjid Agung Palembang, Selasa (14/5).

Pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Najamuddin dibangun menara masjid yang berada di lokasi terpisah dari bangunan utama. Menara masjid ini berbentuk segi enam setinggi 20 meter.

Menara ini menyerupai kelenteng dengan bentuk atap menara melengkung pada bagian ujung. Kemudian, memiliki teras berpaga yang mengelilingi bangunan menara. Perbaikan dan pemugaran pun kembali dilakukan akibat dampak dari peperangan besar yang terjadi di Kota Palembang pada tahun 1821.

Lihat Juga  Pasar Murah Produk yang Dijual Harus Aman dan Tidak Expired

Dalam perbaikan tersebut, Masjid Agung ini mendapatkan tanah wakaf hingga dilakukan perluasan hingga menjadi 5 hektar dengan daya tampung mencapai 7.750 jamaah. Menara baru masjid juga dibangun dengan setinggi 45 meter mendampingi menara asli yang bergaya Cina. “Renovasi ini baru diselesaikan pada tahun 1971,” terangnya.

Seiring berjalannya waktu, Masjid Agung ini pun mengalami perbaikan hingga kini luasan masjid mencapai 15 hektare dengan daya tampung 15.000 jamaah. Masjid ini pun pada tahun 2003 ditetapkan sebagai Masjid Agung Palembang yang merupakan masjid nasional dan warisan budaya masa lalu.

Masjid ini dilindungi oleh Undang-Undang karena termasuk sebagai Cagar Budaya. Dan kini, Masjid Agung Palembang ditetapkan sebagai objek vital nasional bidang kebudayaan dan pariwisata. “Kami harap masjid ini menjadi masjid teladan, dan menjadi pusat pembinaan umat dan ukhwah Islamiyah di Sumsel,” katanya. (aza)

 

 

Penulis : Oleh: Alwi Alim

Editor : Kawara Meliala

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close