ENVIRONMENT

Solusi Pengentasan Polusi, Megubah CO2 Menjadi Batu ?

SIBERLING.COM ISLANDIA – Data sensor di Observatorium Mauna Loa, sebagai bagian dari penelitian National Oceanic and Atmospheric Agency (NOAA), untuk pertama kali dalam sejarah mencatat kadar karbodioksida (CO2) di atmosfer yang mencapai 415,26 bagian per satu juta partikel akibat  polusi udara. Oleh karena itu, agar tidak menimbulkan efek buruk bagi kehidupan maka, mengubah karbondioksida  tersebut menjadi batuan padat pun diwacanakan.

Dalam catatan NOAA, menyebutkan semakin banyaknya kadar CO2 di atmosfer karena sifatnya yang memantulkan panas kembali ke Bumi akan berpengaruh pada peningkatan pemanasan global, inilah yang dikenal dengan efek gas rumah kaca.

“ Efek gas rumah kaca ini sebenarnya baik untuk menjaga kehidupan agar kehangatan suhu Bumi tetap terjaga. Tapi kadar CO2 yang terlalu tinggi, menyebabkan panas yang terperangkap di atmosfer Bumi pun meningkat, sehingga membahayakan kehidupan. Peningkatan gas rumah kaca telah membuat penganggaran energi di Bumi tidak seimbang, sebab ia menjebak lebih banyak panas dan menaikkan suhu rata-rata Bumi,” seperti dikutip dari TechCrunch, Senin (13/5/19).

Menyikapi hal ini, Geolog Sandra Osk Snaebjornsdottir peneliti dan insinyur yang bekerja untuk proyek CarbFix di Islandia menyebut, saat ini dirinya tengah bereksperimen untuk mengubah karbondioksida itu menjadi batuan padat.

“ Cara ini tengah dikembangkan oleh tim internasional yang terdiri dari Teknologi ini meniru proses alami pengubahan karbon oleh batuan basalt yang biasanya menghabiskan waktu hingga ribuan tahun. Dengan metode ini, kami telah mengubah waktu yang dibutuhkan secara drastis,” jelas Snaebjornsdottir

Untuk dapat menggunakan uap untuk menangkap CO2 tersebut, ulasnya perlu langkah pengembunan menjadi sejenis air bersoda. Zat cair ini lantas dialirkan lewat pipa ke lokasi yang berada beberapa mil dari lokasi penelitian.

Lebih lanjut kata Snaebjornsdottir, dengan menggunakan tekanan tinggi, cairan itu disuntikkan ke batuan basalt yang berada 3.300 kaki di bawah tanah Islandia. Ketika cairan ini mendapat kontak dengan kalsium, magnesium, dan zat besi di batuan basalt, cairan itu mulai menjadi mineral.

“Hampir semua CO2 yang disuntikkan akan menjadi mineral dalam waktu dua tahun dalam percobaan pertama kami,” jelas Snaebjornsdottir,

Meski begitu, harus diakui jika teknik ini cukup berhasil dilakukan di Islandia, namun para peneliti memberi catatan mungkin teknik ini tidak berhasil di wilayah lain.Karena teknik ini sangat boros air. Untuk tiap satu ton CO2 yang disuntikkan ke bawah bumi dan dibekukan, dibutuhkan 25 ton air yang telah disuling sehingga tak mengandung garam.

Editor : Saputra Fatih

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker