ENVIRONMENT

Pembalut Wanita Dapat Merusak Lingkungan, Benarkah ?

SIBERLING.COM JAKARTA – Bicara mengenai haid, atau menstruasi tak cuma menyangkut kesehatan wanita akan tetapi bersinggungan erat dengan kelestarian alam. Bahkan pembalut wanita di sebut-sebut sebagai salah satu factor penyebab kerusakan alam dan lingkungan. Hal itu diungkapkan Jeanny Primasari, salah seorang penggagas komunitas Zero Waste Nusantara belum lama ini.

Menurut Jeanny, pembalut sekali pakai yang sering digunakan penduduk dunia khususnya kaum wanita dapat menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan.  Ia menjelaskan, berapa banyak  pembalut yang dipakai selama setahun jika dikalkulasikan dalam rata-rata 12 bulan X sehari wanita menggunakan 4-5 pembalut sekali pakai. Tentu  jumlah itu sangat banyak sekali. Persoalannya kata Jeanny bukan pada hal itu, melainkan pada limbah sampah dari pembalut tersebut akan tercecer di lautan, hutan, bahkan lingkungan sekitar yang sudah barang tentu berefek pada buruknya system lingkungan hidup bagi manusia dan mahluk hidup lainnya.

“ Memang saat dibuang, sampah pembalut mulanya akan teronggok di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).  Namun seiring berjalannya waktu, sampah akan menimbulkan gas metana yang mampu mencemari lingkungan. Gas metana adalah salah satu penyebab utama pemanasan global yang ujung-ujungnya berpengaruh pada perubahan iklim,” ujarnya seraya mencontohkan bahwa, bahan plastik yang terkandung di dalam pembalut tersebut akan lama terurai setelah puluhan bahkan hingga ratusan tahun. Selain itu, pemutih yang digunakan untuk pembuatan bantalan pembalut juga dipastikan dapat mencemari tanah dan air saat dibuang.

“ Tak hanya itu, lapisan plastik yang terdegradasi juga akan menjadi mikroplastik saat terbawa ke lautan. Dengan sendirinya, mikroplastik akan menjadi makanan ikan-ikan di lautan dan berakhir kembali pada rantai makanan manusia. Yang ujung-ujungnya dapat menyebabkan penyakit kanker,” tuturnya menegaskan.

Lalu mengapa tidak dibakar saja ? pertanyaan itu kata Jeanny sebenarnya sering kali muncul. Hanya saja, itu bukanlah satu solusi yang tepat, strategi ini justru menjadikan dampak buruk pembalut bagi lingkungan kian menjadi-jadi.

Ia mengatakan, dalam film dokumenter The Story of Stuff. Film yang bercerita tentang daur ‘hidup’ barang-barang yang dipakai manusia itu menjadi bentuk kritik akan konsumerisme dalam mempromosikan kelestarian lingkungan.

Film berdurasi 21 menit ini memperlihatkan asap dan racun yang muncul dari pembakaran sampah. “Secara volume [barang/sampah] memang berkurang jauh, tapi secara racun, itu meningkat banyak. Pembakaran  yang menghasilkan dioksin. Jika dihirup, dioksin bisa meracuni tubuh. Film yang dirilis pada 2007 lalu itu mendefinisikan dioksin sebagai racun paling berbahaya yang diciptakan manusia,” paparnya.

Oleh karena itu Jeannya menyarankan agar wanita dapat melirik yang Serba ‘Reusable‘. Belakangan, kampanye penggunaan barang-barang ramah lingkungan kian digalakkan. Mulai dari sedotan plastik, gerakan membawa botol minum, hingga kantung plastik berbayar. Gerakan-gerakan ini mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjadi agen perubahan demi bumi yang lestari.

“ Wanita juga bisa menjadi agen perubahan dengan mengganti penggunaan pembalut menjadi produk yang lebih ramah lingkungan seperti reusable pad dan menstrual cup,” tuturnya seperti dikutip dari cnnindonesia.com

Menurut Jeannya, saat ini belum banyak wanita yang menyadari hal tersebut. Ada banyak alasan yang melatarbelakanginya. Mulai dari kebiasaan yang tertanam sejak dini, anggapan sulitnya menggunakan reusable pad, hingga terbentur tabu untuk menggunakan menstrual cup.

Jika masih takut beralih pada menstrual cup, Jeanny menyarankan wanita untuk mulai melirik reusable pad. Namun, perhatikan bahan reusable pad sebelum membeli.

“Pilih bahan yang 100 persen katun. Meski daya tampung lebih besar daripada pembalut sekali pakai, tetap perhatikan durasi penggunaan dan kapan harus diganti,” tutupnya singkat.

Editor : Saputra Fatih

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker