GO GREEN

Menjaga Kelestarian Tikar Purun Yang Terancam Punah

SIBERLING.COM OKI.- Tikar Purun adalah kebudayaan asli masyarakat Pedamaran, Kabupaten OKI. Sang, tikar purun kini terancam punah, akibat semakin sempitnya lahan gambut yang menjadi habitat asli purun.

KOTA Tikar, demikian orang di Sumatera Selatan (Sumsel) menyebut desa-desa di kawasan Kecamatan Pedamaran, Kabupatan Ogan Komering Ilir (OKI). Di sana, ada 14 desa yang kebanyakan warganya, terutama perempuan, dikenal sebagai pembuat tikar dari bahan purun.

Purun (Eleocharis dulcis) adalah sejenis tumbuhan rumput liar mirip pandan yang tumbuh subur di wilayah basah di kawasan rawa bergambut. Batangnya tegak, tidak bercabang, dengan warna hijau mengilat sepanjang 50 sampai 200 sentimeter. Purun cocok dijadikan bahan baku kerajinan karena dianggap tahan lama, kuat, dan nyaman saat digunakan.
Kecamatan Pedamaran yang dulunya disebut Marga Danau, memiliki luas wilayah 150.000 hektar, dan memiliki gambut seluas 120.000 hektar, dengan jumlah penduduk 45.448 jiwa. Kecamatan Pedamaran terdiri dari 14 desa, yang mayoritas rumah penduduknya berbentuk rumah panggung dan rumah rakit yang menetap di sungai.

Bagi masyarakat Pedamaran, menganyam tikar purun bukan hanya untuk mencari nafkah, tapi juga untuk menjaga tradisi leluhur yang hingga kini terus dilestarikan. Dan dapat dipastikan, hampir 90 persen perempuan di Desa Pedamaran bisa menganyam tikar, sebuah keahlian yang didapatkan secara turun temurun.

Namun sayang, kini tradisi tikar purun itu terancam punah karena makin sempitnya lahan gambut yang menjadi habitat asli purun. Penyempitan lahan gambut mulai terasa sejak kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015. Padahal saat itu, wilayah gambut Pedamaran belum disentuh konsesi (pemberian hak atau izin oleh pemerintah), hampir semua gambut dangkal basah subur dan kaya dengan purun. Mudah sekali warga mendapatkannya.

Belum lagi, alih fungsi lahan gambut menjadi perkebunan sawit yang menguasai lahan hampir 80 ribu hektar, membuat lahan gambut menjadi kering dan habisnya purun sebagai bahan baku tikar. Data Jaringan Masyarakat Gambut Sumsel menyebutkan, Kecamatan Pedamaran kini mulai dikelilingi perkebunan kelapa sawit, dan yang tersisa hanya 1.200 hektar. Namun 1.000 hektar sebagian besar masuk ke konsesi 8 perusahaan , dan yang tersisa bisa dimanfaatkan oleh masyarakat hanya 30 hektar, namun yang telah dimanfaatkan baru 4 hektar saja.

Terkait kelestarian tikar purun yang terancam, Redaksi AsSAJIDIN Grup media ini menemui komunitas purun dari Lingkar Adat Marga Danau dan Organisasi Keluarga Mahasiswa Kota Tikar (KMKT) Pedamaran, OKI. Dua komunitas ini sangat aktif dalam menjaga kelestarian purun sebagai identitas dan budaya daerah.

Rian Syaputra dari Lingkar Adat Marga Danau didampingi rekannya Alan Prakoso menjelaskan, lebih dari 75 persen lahan gambut dari total luas Kecamatan Pedamaran seluas 1.059,68 km² sudah hilang, dan yang tersisa hanya sekitar 10.000 hektar. Selebihnya, sudah beralih fungsi dan ditanami sawit, serta masuk Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan, meskipun lahan gambut tersebut belum dikelola perusahaan.

“Beberapa lahan gambut masuk HGU perusahaan dan masyarakat mengambil dari situ dan disebut memasuki wilayah tanpa izin. Masyarakat lalu disuruh pulang, purun ditinggal, dan mereka dikasih ongkos Rp20 ribu. Padahal purun adalah mata pencaharian mereka sehari-hari. Mereka (masyarakat Pedamaran-red) ambil purun ajak anak bini dan buat pondok dari terpal. Seminggu paling cepat, dan ada yang sebulan. Jaraknya kalau naik ketek (sejenis perahu) itu 7 jam dari Pedamaran,” kata Rian Syahputra.
Menurutnya, masyarakat Pedamaran hanya memanfaatkan lahan gambut, dan bukan mengelola gambut. Masyarakat memanfaatkan gambut sehingga tidak merusak alam, karena purun diambil dengan cara dicabut, dan kemudian purun tumbuh lebih banyak.

“Itulah kearifan masyarakat Pedamaran terhadap pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang ada. Mereka tidak menanam sawit, mereka hanya mengambil purun dan mengambil ikan. Semenjak banyak ekspansi kelapa sawit, kondisi lahan gambut menyembit dan kondisi airnya kering. Sering masyarakat jadi korban atau kambing hitam dan disebut sebagai pelaku pembakar, padahal tidak. Masyarakat hanya mengambil dan memanfaatkan dan itu bagian dari pelestarian. Kalau mengelola itu sudah mengubah fungsi, artinya sudah menjadi bagian dari perusak. Gambut dikelola menjadi kanal dan menjadi tanaman budidaya seperti sawit, itulah yang merusak gambut. Karena itu disebut hampir punah, kalau tidak ada purun tidak ada lagi tikar, kita kehilangan identitas,” tukasnya.

Rian menambahkan, keberadaan tanaman sawit di lahan gambut menimbulkan banyak efek samping, di antaranya purun sudah tidak segar karena air yang kering, serta purun menjadi keras. Padahal perkembangan purun sangat tergantung air.

“Purun yang terkena sawit menjadi keras dan berwarna. Karena keras susah untuk ditumbuk,” jelas Rian.
Lalu, bagaimana cara membuat purun tetap lestari? Kata dia, Ibu-ibu di Kecamatan Pedamaran kini berkumpul dan membuat kelompok solidaritas masyarakat Pedamaran untuk purun. Mereka buat kelompok penganyam tikar dan pengambil tikar, untuk menunjukkan jika mereka masih ada, meski lahan purun hampir habis.

“Jadi mereka menunjukkan eksistensinya dengan membuat tikar, melakukan kegiatan dan mengikuti perlombaan. Masyarakat Pedamaran pelan-pelan sudah paham. Sekarang mereka sadar, kalau dulu banyak yang bela purun, mereka tidak peduli, sekarang tidak lagi. Sekarang mereka tahu purun itu dilihat dari ekonomis murah, namun sejarah kearifan dan kebudayaan lokal itu yang tinggi sehingga Pedamaran disebut Kota Tikar,” beber dia.

Apakah purun hanya terdapat di Pedamaran, Kabupaten OKI, atau ada di daerah lain. Rian mengaku, tidak bisa memastikan, namun sangat jarang purun terlihat di kabupaten kota lain di Sumatera Selatan.

“Setahu saya tidak ada, tapi tidak bisa dipastikan. Karena purun hanya ada di lahan bergambut. Memang pernah ada di Musi Banyuasin (Muba), tapi tidak muncul karena banyak kayu gelam. Kalau pun ada itu purun tikus karena ukurannya kecil dan tidak bisa dijadikan kerajinan. Purun tikus susah dianyam karena mudah pecah dan rapuh,” pungkasnya.
Cara Pembuatan Tikar Purun
Purun termasuk tumbuhan endemik, atau jarang ditemukan dan hanya ada di daerah tertentu. Pedamaran dulu disebut Marga Danau, dan banyak ditemui purun di daerah lebak kalau sekarang disebut gambut, dan gambut itu tanamannya purun. Purun yang menjadi bahan untuk membuat tikar. Diambil dan diolah menjadi tikar sehingga Pedamaran disebut Kota Tikar.

Lalu bagaimana tahapan sehingga purun dapat diolah menjadi sebuah tikar? Rian Syahputera menjelaskan, purun diambil dari lahan gambut, dengan cara dicabut kemudian dibidas atau diikat. Dari tempat mengambil purun, masyarakat mengikatnya menjadi ikatan bidas dan mengirimnya melalui sungai kecil ke desa-desa di Pedamaran, menggunakan perahu motor kecil atau perahu ketek yang menarik bidas-bidas itu dengan cara dihanyutkan. Satu bidas bisa untuk tiga tikar.

Selanjutnya, purun dikeringkan selama 2 hari dan kemudian dipipihkan dengan cara ditumbuk dengan kayu antan (alat penumbuk) sampai purun menjadi halus. Baru proses penganyaman, jadi tikar. Tikar purun memiliki beberapa motif, sesuai warna dan teknik anyaman. Perwarnaan ini menggunakan sumbo, yakni pewarna yang diambil dari getah-getahan atau kulit buah.

“Pewarnaan, purun direbus ke dalam panci berisi air yang sudah dicampur dengan kesumbo (pewarna) alami yang terbuat dari kulit manggis, kunyit dan pandan. Atau dari bekas tumbuhan yang diolah. Direbus kemudian diwarnai dengan variasi warna seperti hijau, merah atau kuning, kemudian dijemur. Proses pengayaman yang panjang. Ada proses netar atau buat pondasi anyaman tikar. Setelah itu baru proses akhir atau dinamakan proses melepih atau dikunci agar tikar purun lebih rapi. Butuh waktu 3 hari untuk purun siap dianyam dan untuk mendapatkan satu lembar tikar,” jelas Rian.

Ketua Organisasi Keluarga Mahasiswa Kota Tikar (KMKT) Pedamaran Dika Sukandi menambahkan, proses mengambil purun memakan waktu satu hari, kemudian dijemur sehingga warna purun yang semula hijau menjadi kuning. Proses penjemuran tergantung matahari, namun positif dua haru purun baru bisa ditumbuk, kemudian dianyam.

“Kalau dianyam tergantung. Kalau ibu yang sudah mahir membutuhkan waktu 1,5 jam untuk satu tikar ukuran 7 kaki, dan tikar ukuran 9 kaki memakan waktu 2 jam. Secara keseluruhan dari proses pengambilan purun hingga tikar purun selesai dianyam memakan waktu 4 hari,” jelas dia.

Dika mengatakan, pembuatan tikar purun dilakukan oleh Ibu-ibu di Pedamaran untuk mengisi kekosongan waktu.

“Gawe Ibu di Pedamaran, selain masak jago anak, bapaknya nyari ikan. Jadi daripada nganggur bae adolah nganyam, sambil betanak (memasak-red) nasi sambil nganyam purun. Proses nganyam sama seperti olahraga, hanya dilakukan pagi hari. Sebelum matahari terbenam mereka numbuk purun, jadi itu olahraganya, pakai antan (alat penumbuk-red),” tambahnya.

Lantas, ada beberapa jenis dan motif tikar purun? Dika mengaku, dari yang dia ketahui ada lima jenis tikar purun. Pertama Sisik Salak, Pejalur, Tikar Polos, Tikar Putih dan Tikar Kotak. Tikar Putih identik untuk sholat dan makan, Sisik Salak untuk tamu dan keluarga, Tikar Polos untuk tempat tidur, Tikar Pejalur untuk dijual karena harga terjangkau dan banyak peminat. Sementara Tikar Kotak karena bentuk dan motifnya berbentuk kotak-kotak.

“Tapi sekarang Ibu-ibu sudah kreatif, motifnya berbentuk lupis dan ada yang bergambar ikan. Bahkan, purun tidak lagi dibuat tikar melainkan kerajinan lain seperti tas, dompet serta undangan pernikahan,” kata dia menjelaskan.

“Untuk penjualan, Ibu pengrajin di setiap rumah memiliki pengepul atau tengkulak, setiap desa lima sampai 8 pengepul. Mereka jual ke situ, baru dibawa ke daerah luar, ada yang ke Muba, Jambi, dan daerah lain. Harga satu tikar purun ukuran besar 6 kaki x 10 kaki berkisar antara Rp10 ribu s/d Rp12 ribu, sementara tikar purun kecil ukuran 7 kaki x 4 kaki Rp8 ribu. Pengepul ambil keuntungan untuk satu tikar berkisar Rp2 ribu sampai Rp5 ribu. Kalau tikar purun sudah di pasaran harganya bebas, tergantung pedagang yang berjualan,” pungkas dia. (Ferly marison)

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker